MAHASISWA : CENDEKIA ATAU KONSUMEN? DALAM REFLEKSI BUKU MATINYA KEPAKARAN PERLAWANAN TERHADAP PENGETAHUAN YANG TELAH MAPAN DAN MUDARATNYA.

 

Mahasiswa merupakan mereka yang disebut sebagai orang-orang yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Baik itu sekolah tinggi, akademi, dan universitas. Hal ini menarik karena berlandaskan pada sifat manusia sebagai makhluk yang kritis dan penuh rasa ingin tahu. Tentu saja tempat untuk mengekspresikan segala hal di atas adalah dengan berada di perguruan tinggi menjadi seorang mahasiswa. Sehingga sifat alami yang melatarbelakangi kemajuan berpikir adalah pola kritis yang ada di dalam diri sebagai seorang manusia yang berpikir. Tetapi bagaimana jika kenyataannya, justru perguruan tinggi gagal dalam mewujudkan ataupun mengembangkan sifat alami dan dasar dari manusia ini?

Bagaimana jika tujuh tahun yang seharusnya penting malah berubah menjadi sesuatu yang sia-sia di dalam kehidupan yang seharusnya luar biasa bagi kaum intelektual muda? Bagaimana jika harapan berkembang dan maju dalam berpikir gagal karena system dan kesenjangan besar yang terjadi antara pelayanan dan keinginan yang tidak terpenuhi? Melainkan hak-hak istimewa dan hasrat untuk selalu mendapatkan pelayanan yang didambakan?

Semua itu menjadi sangat menarik dan menggugah minat untuk mencari tahu mengapa dan bagaimana semua itu seharusnya terjadi? Lalu kemudian beralih pada bagaimana cara kita mengatasi hal-hal yang sudah mendarah daging dan mengakar di dalam tubuh perguruan tinggi. Hingga kemudian hak-hak istimewa menjadi satu-satunya tuntutan penting dalam kehidupan kampus? Tentu saja tantangan terbesar adalah terletak pada bagaimana proses berpikir dan tindakan logis dalam mengembangkan pengetahuan dibandingkan menuntut hak-hak istimewa di kampus.

Pendidikan tinggi seharusnya menyembuhkan kita atau para mahasiswa dari memiliki pandangan keliru tentang kecerdasan yang sama rata untuk semua jenis kalangan mahasiswa. Sangat menarik menukil sebagian besar dari pendapat dan tulisan yang dibuat oleh Tom Nichols selaku pakar dalam bukunya yang berjudul Matinya Kepakaran Perlawanan terhadap Pengetahuan yang telah Mapan dan Mudaratnya. Buku ini memberikan sebuah sudut pandang baru dalam memahami apa yang sebenarnya terjadi di dunia kampus. Terutama mengenai bagaimana seharusnya mahasiswa berperan sebagai seorang mahasiswa dan kampus yang menjadi tempat atau suaka bagi pengetahuan yang mereka tuntut dibandingkan pada hak-hak istimewa sebagai seorang pelanggan yang selalu benar.

Ekspresi pergerakan mahasiswa abad ke-21 menjadi sangat jauh berbeda dari mahasiswa seabad sebelumnya. Tentu saja banyak factor yang melatarbelakangi dan berpengaruh sangat besar terhadap perkembangan dan perubahan ini. Tetapi selama beberapa abad berkembang, mahasiswa di seluruh dunia tetap sama, mereka adalah cendekia. Bukan konsumen. Kecuali saat ini. Benar. Betapa mirisnya kita sebagai mahasiswa mulai melepas diri dari jati diri kita yang sebenarnya. Sebagai seorang cendekia kita bertanggung jawab penuh untuk berada di garis depan atau sebagai garda terdepan kemajuan berpikir, pola ilmiah yang melandasi pergerakan kita dan tuntutan akan kehidupan masyarakat yang menjadi misi utama kita.

Salah satu factor penting juga yang menyebabkan mengapa mahasiswa berperan selaku konsumen adalah karena maraknya perguruan tinggi yang tercipta sebagaimana yang diterakan di dalam buku Tom Nichols. Sayang sekali, hal itu merupakan salah satu kegagalan system pendidikan di masa lalu yang berakibat sangat fatal ketika memasuki tingkatan pendidikan yang lebih tinggi. Siswa di SMA hampir sama sekali jarang untuk diberikan keleluasaan mengekspresikan diri dalam pengetahuan mereka juga tentang betapa minimnya fasilitas yang mendukung untuk mereka mengembangkan pengetahuan mereka sedini mungkin agar kelak dapat menjadi seorang cendekia dan betapa pentingnya akan hal itu. Tetapi masalah pelik dan tak berkesudahan di dalam negara menjadikan para pemuda menghabiskan waktu bukan untuk bertanya akan apa yang terjadi tetapi menghabiskan waktu dengan mengabaikan akan apa yang terjadi dibandingkan menjawab tantangan itu.

Alhasil, ketika memasuki dunia kampus, mereka berperan selayaknya konsumen. Karena kampus sekarang dinilai sebagai tempat untuk meraih gelar dan ijazah agar dapat bersiap memasuki dunia kerja yang dimana sesungguhnya, kenyataannya, persiapan itu dimulai dari dunia kampus itu sendiri. Sehingga peluang untuk melihat tantangan dunia kerja jauh lebih masuk akal dibandingkan saat ketika melepas kaki dan melangkah keluar dari pelataran kampus dan menyambut dunia baru.

Namun hal ini bukan sepenuhnya juga terletak pada mahasiswa yang masih berada dalam dua kebimbangan utama dari jati diri mereka yaitu apakah mereka merupakan cendekia ataukah konsumen? Tentu saja kegagalan dalam hal ini berangkat dari institusi pendidikan itu sendiri yang gagal dalam memberikan pengetahuan dasar dan keahlian yang membentuk jiwa “Pakar” dalam diri mahasiswa. Ini terjadi sebagaimana mengutip dari buku Tom Nichols, Matinya Kepakaran, “karena kehadiran di institusi pendidikan tinggi tidak lagi menjamin ‘pendidikan tinggi’.”  Perguruan tinggi tampaknya lebih focus untuk memberikan pelayanan “pergi kuliah”.

Penting untuk diketahui, mahasiswa zaman sekarang lulus dengan keyakinan di dalam diri mereka bahwa mereka tampaknya tahu lebih banyak daripada yang mereka ketahui. Sifat megalomania mulai muncul di dalam jiwa dan menciptakan delusi untuk suatu kebohongan yang indah dan semu. Keyakinan tidak berdasar ini banyak terjadi dan membuat kemajuan tampak tidak berarti sama sekali. Gelombang mahasiswa yang memasuki perguruan tinggi kini telah mendorong perubahan di dalam lini fungsi pendidikan. Sangat buruknya, kampus mulai menjadi sarana tempat memenuhi kebutuhan seorang klien yang menuntut hak dan keistimewaan. Hingga pada akhirnya mereduksi nilai dan moralitas seorang cendekia yang seharusnya dipupuk di dalam kepribadian mahasiswa agar menjadi seorang cendekiawan sesungguhnya.

Ini adalah masalah yang sangat pelik dibandingkan sekedar kebodohan, dan kekonyolan kaum intelektual di dalam kampus. Yang menarik dalam buku Tom Nichols adalah uraiannya sebagaimana berikut :

“Perguruan tinggi seharusnya bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang memiliki latarbelakang memadai dalam bidang tertentu, keinginan untuk terus belajar sepanjang hidup, dan kemampuan memahami peran sebagai warga negara yang berdaya. Namun, bagi banyak orang, perguruan tinggi telah menjadi, mengutip kata-kata seorang lulusan perguruan tinggi yang terkenal suka berpesta di California, ‘tujuh tahun yang menakjubkan di antara sekolah menengah atas dan pekerjaan pertama anda di Gudang.’ Perguruan tinggi tidak lagi menjadi jalan menuju kematangan berpendidikan, dan malah hanya menjadi taktik untuk menunda kedatangan masa-masa dewasa yang keras.”

Ironisnya, semua itu terjadi saat ini dan tampaknya hampir sama di seluruh dunia. Hal yang penting dan utama juga adalah mulai berjaraknya dosen dan mahasiswa dalam ikatan seorang cendekia dan professionalisme kerja sebagai tenaga pendidik dan pakar. Hal ini bahkan mulai menjadi tabu di kalangan mahasiswa dan dosen akan kedekatan yang seharusnya menguntungkan dalam ranah ilmiah dan kebutuhan pengetahuan. Kenyataannya, perguruan tinggi juga memperlakukan mahasiswanya sendiri sebagai pelanggan dan tenaga pendidik pun demikian. Kebutuhan untuk mendapatkan nilai yang baik dan tinggi adalah syarat utama kebutuhan seorang klien.

Bagaimana memecahkan masalah ini menjadi pertanyaan yang menarik dalam dunia pendidikan di masa depan khususnya untuk Indonesia itu sendiri. Pola asuh yang jelas dari orangtua adalah indicator paling mendasar yang dibutuhkan untuk memperbaiki masalah utama ini. Sebelum memasuki dunia kampus, peran orangtua sangat jauh besarnya karena mereka memulai semuanya dari dasar.

Mengutip kembali pernyataan penting yang dikemukakan oleh Tom Nichols dalam bukunya bahwa,

Mahasiswa masih muda dan orangtua mengasihi anak mereka. Cukup adil. Namun, lebih daripada itu, saat keseluruhan rangkaian pendaftaran dan penerimaan selesai, dosen terpaksa mengajar mahasiswa yang masuk ke kelas berbagai hal yang tak ada hubungannya dengan kebutuhan pendidikan tinggi. Kini dosen tidak memberikan instruksi kepada mahasiswa mereka, justru mahasiswa, dengan otoritasnya yang muncul secara alami, memberikan instruksi kepada dosen.”

Ini bukan hanya sekedar upaya mahasiswa yang berlagak sombong untuk mencoba berlagak lebih bijak daripada dosen. Seringkali juga koreksi diberikan kepada mahasiswa dimana ternyata dalam hal ini, tingkah mahasiswa yang menganggap koreksi sebagai hinaan, ternyata memang semakin sering terjadi. Pujian yang tidak sepantasnya diberikan dan kesuksesan yang semu telah membangun arogansi dalam diri mahasiswa. Ini kemudian membuat mereka menyerang guru atau atasan yang mematahkan ilusi bahwa mereka special – kebiasaan yang sulit untuk dihilangkan pada masa dewasa.

Ironisnya dalam hal ini juga,

Para dosen mungkin mengharapkan rasa hormat, namun keahlian mereka hanyalah bentuk pelayanan lain yang dibeli oleh mahasiswa sebagai konsumen. Jadi, mahasiswa mungkin tidak lagi merasa takut untuk menyinggung ataupun mengganggu dosennya, mereka bahkan dapat mengajukan pertanyaan yang mungkin terdengar bodoh.”

Sehingga, sebagai kesimpulan akhir, bahwasanya, institusi memiliki peran signifikan terhadap merosotnya nilai-nilai kemahasiswaan. Kampus memperlakukan mahasiswa mereka sebagai klien dan bukan sebagai peserta didik. Mahasiswa dimanjakan oleh layanan pembelajaran baik secara material maupun secara intelektual.

Sesungguhnya demikian hal itu tidaklah sepenuhnya keliru. Beberapa dari mahasiswa yang memiliki konsep disiplin diri dan etika perilaku yang belum matang, pengalaman dalam berkuliah terasa seperti sekedar paket liburan yang diberikan hadiah akan suatu gelar sarjana pada penghujung masa pendidikannya. Pengalaman kampus berbasis produk layanan semacam ini hanya sibuk untuk membelanjakan anggaran dan membangun fasilitas.

Kampus kehilangan jati dirinya dalam membentuk citra dan tradisi kepakaran/cendekiawan. Kelas dan mata kuliah diisi pelatihan tanpa nuansa pendidikan. Sehingga ijazah dan gelar yang didapatkan hanya sekedar apresiasi bisu aktivitas rutin mahasiswa di kampus.

Hal ini kemudian menunjukkan suatu hasil pendidikan yang gagal bagi mahasiswa yang telah menempuh pendidikan dan untuk mematangkan tradisi intelektualnya. Terlebih lagi, yang paling buruk, bahwa kesan terhadap pendidikan yang dijalankan selama ini hingga kelulusan merupakan penanda bahwa uang kuliah yang selama ini mereka keluarkan sudah dianggap lunas.

Pada dasarnya umumnya mahasiswa memiliki keinginan yang cukup sama di semua hal, keinginan untuk cepat lulus dan meninggalkan kampusnya. Tidak ada yang peduli untuk memaksimalkan waktu mengasah diri, mendiskusikan ide dan perkembangan ilmu pengetahuan bersama dosen selaku tenaga ahli dan pakar ataupun penerapan akan gagasan-gagasan melalui program pengabdian masyarakat.

Pada akhirnya, lulusan dengan standar biasa dengan tenaga ahli yang kemampuannya bahkan tidak sesuai dengan kualifikasi zamannya. Hingga tidak ada lagi yang tersisa dari sifat cendekia di dalam diri mahasiswa.


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Nichols, Tom. 2020. Matinya Kepakaran Perlawanan terhadap Pengetahuan yang telah Mapan dan Mudaratnya. Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta.

https://www.kompasiana.com/azwariainkendari4045/5d7795470d82301d0d535422/konflik-relasi-pakar-awam-ulasan-interpretatif-atas-matinya-kepakaran-oleh-tom-nichols-bagian-satu?page=all Diakses pada 13 : 58, Senin, 31 Mei 2021.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tulisan Tentang Nasib Nelayan